PROFIL : Evan Dimas Darmono, Pemain Masa Depan (Foto+Video)

Evan Dimas, adalah nama yang kali ini akan saya ulas sedikit dia adalah salah satu rising star yang namanya akhir-akhir ini sering dibicarakan oleh para penggila bola Timnas Indonesia.

by bola.net

picture by bola.net

Yap, diajang AFF-U19 yang akhir-akhir ini menyita mata para pecinta sepakbola Indonesia, muncul nama pemuda yang begitu fenomenal bakatnya. Evan Dimas Darmono nama lengkapnya.

Sebelum menjelaskan tentang kipranya Sekarang di Timnas, mari kita tengok sejarah Evan Dimas yang dulu pernah menimba ilmu kepada PEP GUARDIOLA.

Evan Dimas berkesempatan berguru langsung kepada Pep Guardiola di Barcelona.

Usianya baru 17 tahun, namun kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar patut diacungi jempol. Ya, dia adalah Evan Dimas, pemain asli Surabaya yang masuk dalam skuat sepakbola Jawa Timur (Jatim) yang diproyeksikan menuju ke Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 di Riau.

evan dimas the chance

Kota Surabaya memang tak pernah berhenti melahirkan bintang-bintang besar di dunia sepakbola Indonesia. Mulai dari era Syamsul Arifin, Bejo Sugiantoro hingga Andik Vermansyah, dan terbaru adalah Evan Dimas. Tak hanya masuk dalam skuad Jatim, namun pemuda yang satu ini juga berkesempatan berguru langsung kepada Josep ‘Pep’ Guardiola di Barcelona, karena terpilih di ajang bertajuk ‘The Chance Asia Tenggara’.

Evan lahir di Surabaya 17 tahun silam, buah hati pasangan Condro Darmono dan Ana. Ia bukan dari keluarga berada. Ayahnya hanya seorang tenaga security di salah satu komplek perumahan elit di kawasan Surabaya Barat. Tapi semangat Evan untuk membanggakan kedua orang tuanya melalui sepakbola tak pernah luntur. Bagi pemuda yang baru menyelesaikan proses belajarnya di SMA Shafta Lontar Citra Surabaya, sepakbola adalah segalanya.

Ia mengaku, pertama kali tekun bermain sepakbola sejak kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Ia sempat menimba ilmu di SSB Sasana Bhakti (Sakti) bersama saudara sepupunya, Feri Ariawan. Bakatnya semakin terasah, ketika bergabung dengan SSB Mitra Surabaya pada 2007, saat itu Evan masih berusia 12 tahun.

Di lapangan hijau, ia berperan sebagai gelandang. Meski posturnya mungil, daya jelajahnya sangat tinggi. Tak hanya itu, kaki kiri dan kanannya juga ‘hidup’. Evan juga dikenal sebagai gelandang yang memiliki tenaga ekstra. Semangatnya seperti tak pernah habis untuk mengejar kemenangan tim yang dibelanya. Hanya satu yang menjadi kelemahannya saat ini, yakni kontrol emosi. Sebuah hal yang lumrah dimiliki seorang pemain muda.

Mitra Surabaya, salah satu klub yang berada dalam naungan kompetisi internal PSSI Surabaya, menjadi tim pertama yang dibela oleh Evan. Penampilan gemilangnya bersama Mitra, membuat namanya termasuk dalam skuad Surabaya untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) III Jatim 2011. Usai tampil mengesankan di Porprov, menjadi tiket Evan masuk dalam tim sepakbola Jatim untuk PON 2012 di Riau. Selain itu, ia juga tercatat sebagai pemain tim Divisi II, Surabaya Muda.

Tak hanya moncer di level lokal, pemilik nama lengkap Evan Dimas Darmono ini cukup dikenal di tingkat Nasional. Ia menyandang ban kapten Tim Nasional (Timnas) U-17 Indonesia, sekaligus sukses mengantar Garuda Muda menjuarai HKFA International Youth Invitation Tournamen di Hongkong, awal 2012.

Setelah mengharumkan nama Indonesia di Hongkong, nama Evan kembali booming pada Juni 2012. Hal itu dikarenakan, Evan terpilih sebagai wakil Indonesia dalam ajang pencarian bakat bertajuk ‘The Chance’, yang disponsori oleh salah satu apparel terkenal. Ia pun akhirnya berhak terbang ke Barcelona, menyisihkan ratusan ribu pemain muda lainnya di Indonesia, Rabu (15/8) lalu.

Di Barcelona, Evan akan mendapat pelatihan dan arahan langsung dari eks pelatih Barcelona, Pep Guardiola. Evan akan bersaing dengan 100 anak dari 55 negara, termasuk Indonesia. Ia harus kerja ekstra dan tidak minder, jika ingin keluar sebagai yang terbaik di ajang ini.

Guardiola

“Saya tidak pernah menyangka, bisa mendapat kesempatan ini. Target saya adalah lolos 16 besar ajang tersebut,” ucap Evan kepada GOAL.com Indonesia.

Evan sadar, masuk 16 besar ajang tersebut bakal membuatnya semakin dekat dengan Liga Eropa. Rencananya, ke-16 pemain muda yang terpilih dalam ajang itu akan berpartisipasi dalam tur melawan pemain dari akademi sepakbola klub-klub besar di Eropa, seperti Manchester United, Juventus, dan timnas muda Amerika Serikat.

Selain Evan, tiga pemain yang terpilih dari Asia Tenggara lainnya adalah striker 24 tahun asal Malaysia Rahmat Che Hashim, gelandang 19 tahun dari Thailand, Napapon Sripratheep dan gelandang 20 tahun asal Singapura Muhammad Faris Bin Ramli.

“Rencananya dari Surabaya menuju ke Singapura dulu. Kumpul di sana lalu terbang ke Barcelona. Segalanya sudah saya persiapkan. Saya sudah siap ke Barcelona dan bersaing dengan pemain-pemain lainnya,” tegas Evan sebelum keberangkatannya ke Barcelona, dua hari lalu.

Dari 16 pemain alias yang lolos babak 16 besar nantinya, akan dipilih empat orang yang akan mendapat pelatihan khusus dari jajaran pelatih di Nike Academy, yang bermitra dengan Liga Primer Inggris.

Jauh sebelumnya, ibunda Evan Dimas, Ana sempat menyampaikan sedikit cerita, bila dirinya masih ingat betul betapa kelimpungannya ia dan sang suami, Darmono, ketika anak sulung mereka yang saat itu berumur sembilan tahun, Evan Dimas, meminta sepatu bola. Maklum, mereka bukan orang berada, Ana hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, sedangkan Darmono berjualan sayur keliling sebelum beralih profesi menjadi petugas keamanan.

Ketika itu, Evan yang getol bermain sepakbola sejak usia tiga tahun memang sudah merengek minta didaftarkan ke Sekolah Sepak Bola Sasana Bhakti, Surabaya. Otomatis ia pun harus memiliki sepatubola.

“Demi anak, kami akhirnya mengupayakan. Saya ke pasar dan membeli sepatu bola yang harganya Rp 20 ribu. Yang murah-murah saja wis, asal Evan senang,” kenang Ana yang bersama keluarga berdomisili di sebuah rumah sederhana di kawasan Ngemplak, Surabaya.

Sepatu tersebut ternyata tak cuma membuat Evan gembira. Tapi, sekaligus juga menandai awal perjuangan ia hingga bermuara kepada berbagai prestasi membanggakan. Misalnya, menjadi kapten timnas U-17 Indonesia yang sukses menjuarai HKFA International Youth Football Invitation Tournament 2012 dan sederet prestasi lainnya.

Mantan kapten Persebaya dan juga mantan asisten Freddy Muli saat membesut Gresik United, Mursyid Effendi menganggap, Evan memang pantas terpilih mewakili Indonesia. Mursyid yang membawa Evan masuk ke skuad Mitra Surabaya, bahkan menyebut pengagum Xavi Hernandez itu sebagai ‘anak ajaib’, karena luar biasanya talenta yang dimiliki oleh anak pertama dari empat bersaudara itu.

mursyid effendi

“Saya tetap ngotot, Evan harus tetap bermain. Dulu Yusuf Ekodono saja bisa membela Persebaya saat berusia 16 tahun, dan kami menginginkan Evan juga bisa mengikuti jejak itu. Evan saat ini tinggal berkosentrasi untuk membesarkan bentuk badannya. Kalau sudah begitu, dia baru akan terlihat sempurna di dalam lapangan,” ujar Mursyid. – goal.com

Nah, namun sayang seribu sayang😦 Evan Dhimas harus tersisih pada fase 16 besar dalam ajang pencarian bakat bertajuk Nike ‘The Chance’. Selama sepuluh hari di Barcelona, Evan akhirnya tiba di Surabaya pada Senin (27/8/2012) lalu.

Ia pun berani mengungkapkan, beberapa kendala yang ditemui selama bersaing dengan 99 pesepakbola muda lainnya dari 55 negara di dunia tersebut. Secara garis besar, Evan menjelaskan ada tiga hal yang menjadi kendala utamanya sewaktu mengikuti ajang pencarian bakat tersebut.

Kendala pertama adalah soal cuaca. Sebagai warga negara Indonesia yang biasa hidup di lingkungan tropis, Evan tampak kaget dengan kondisi cuaca di Spanyol. “Di sana sebenarnya juga panas. Tapi, panasnya itu tak membuat berkeringat,” kata Evan Dimas kepada GOAL.com Indonesia.

Sementara kendala yang kedua adalah makanan. Meski sudah mempersiapkan diri sebelum keberangkatan dengan memakan roti setiap hari, namun ternyata makanan yang disajikan di camp pelatihan, sangat asing di lidah pemain berusia 17 tahun itu. “Saya kan cari nasi, soalnya tidak suka sayur. Padahal, orang di sana makannya sayur terus,” sambungnya.

Dan, kendala terakhir adalah yang terberat yang ia rasakan. Kendala itu adalah masalah komunikasi. Sekali lagi, meski sudah mengantisipasi dengan mendatangkan guru les Bahasa Inggris, toh Evan masih kesulitan untuk berkomunikasi dengan rekannya, plus mentor yang sudah dipersiapkan oleh pihak Nike.

“Saya di sana kan sendiri. Saya tidak bisa Bahasa Inggris, jadi nggak bisa ngomong. Apalagi di latihan tidak ada translator, melakukan apa pun jadi takut salah. Ya mau gimana lagi,” ungkap Evan dengan nada menyesal.

Meski gagal, Evan mengaku mendapat banyak hikmah dan pelajaran sepulang dari Barcelona. Ia mulai sadar betapa pentingnya arti sekolah. Ia pun menyesal karena sering menomorduakan sekolah dan lebih memilih sepakbola. “Makanya itu saya sadar kalau sekolah itu penting,” terangnya.

evan dimas di la masia

Evan akhirnya gagal. Ia harus pulang ke Surabaya dengan perasaan sedih. Namun, kegagalan itu tak membuatnya patah semangat. Ia sadar ada nilai yang terkandung dari kegagalan itu. Memiliki gocekan maut, umpan akurat, stamina selalu prima, speed di atas rata-rata, tendangan keras serta heading mematikan, tentu menjadi dambaan semua pesepakbola di muka dunia. Namun, jika tak dikemas dengan kemampuan akademis, bukan tidak mungkin kasus Evan akan terulang.

Di dunia sendiri, banyak pesepakbola yang tak hanya jago di lapangan hijau, tapi juga memiliki otak moncer. Mantan striker tim nasional (timnas) Jerman, Oliver Bierhoff misalnya. Saat meniti karier di dunia sepakbola, pemain yang dikenal memiliki tandukan maut ini menempuh pendidikan ekonomi bisnis di Universitas Hagen, Jerman.

Tapi ternyata cerita hidup Evan Dimas tak berhenti disitu. Pada awal kompetisi IPL (Indonesian Premier League) bergulir nama Evan Dimas masuk menjadi salah satu pemain magang di tim Persebaya 1927.

Meski belum pernah tampil di satu pun pertandingan IPL bersama Persebaya. Pemuda kelahiran Surabaya 1995 silam ini masuk dalam skuad coach Indra Sjafri yang akan mengarungi kompetisi AFF U-19 di Indonesia.

Dan seperti yang anda sekalian ketahui sekarang, kita semua tahu betapa berkelasnya permainan Evan Dimas Darmono saat menjadi kapten dan memimpin teman-temannya di Lapangan.

Evan Dimas dikepung pemain Malaysia (picture by bola.net)

Evan Dimas dikepung pemain Malaysia (picture by bola.net)

TERUSKAN PERJUANGANMU EVAN !!! PERJUANGAN MASIH PANJANG

Video Skill Evan Dimas vs Brunei Darussalam :

BIODATA EVAN DIMAS DARMONO :

Nama Lengkap: Evan Dimas Darmono
Tempat Lahir: Surabaya
Tanggal Lahir: 13 Maret 1995
Kebangsaan: Indonesia
Posisi: Gelandang

beberapa dikutip dari : goal.com, youtube.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: