Ternyata Manusia Prasejarah Sudah Kenal Facebook

Penelitian oleh ahli sosiologi dari Harvard Medical School menemukan bahwa jejaring sosial adalah bagian dari sejarah manusia.

Pertemanan ala Facebook juga diterapkan oleh masyarakat pemburu dan peramu. “Jejaring sosial manusia purba mirip dengan yang kita gunakan sekarang,” kata peneliti sosiologi, Nicholas Christakis.

Kesimpulan ini didapatkan setelah kelompok peneliti dari berbagai universitas memetakan pola hubungan setiap orang pada kelompok etnis Hadza yang menetap di Tanzania.

Etnis ini masih menggantungkan hidup dengan berburu dan meramu serta hidup nomaden seperti yang dilakukan pada masa awal peradaban manusia.

Pemetaan pola hubungan sosial ini merupakan bagian dari upaya peneliti memahami asal mula perilaku bekerja sama dan saling tenggang rasa individu yang kemudian berdampak positif pada kelompok.

Dua perilaku ini dianggap bertolak belakang dengan pandangan evolusi bahwa setiap individu harus saling mengalahkan agar bisa bertahan hidup. Teori kekerabatan pun diajukan untuk menjawab misteri ini. Namun sejak kapan sistem ini berkembang?

Dari pinggiran Danau Eyasi, peneliti berkeliling mengumpulkan fakta lapangan. Selama dua bulan, mereka mewawancara sekitar 200 individu dewasa pada etnis Hadza.

Peserta penelitian ini juga diminta mendaftar orang lain yang dianggap bisa menjadi tetangga baik. Tiga batang pipa berisi madu juga diberikan setiap individu untuk diberikan kepada orang lain yang mereka anggap dekat. Dari tahapan ini, peneliti mendapatkan jejaring kompleks yang teridiri dari 1.263 “pertalian tetangga” dan 426 “pertalian hadiah”.

Untuk meneliti perilaku bekerja sama, peneliti menyebarkan pipa madu tambahan yang boleh disimpan sendiri atau dibagikan kepada anggota kelompok.

Setelah data terkumpul, peneliti menganalisis pola hubungan dalam etnis Hadza. Peta tersebut dengan gamblang memperlihatkan etnis ini mencoba membuat gugus-gugus sosial kecil, sembari mengucilkan individu yang enggan bekerja sama.

Fakta menarik lain adalah perilaku bekerja sama diterapkan tanpa memandang pertalian darah, atau posisi geografis. Dengan demikian peneliti berkeyakinan bahwa jejaring sosial merupakan perekat bagi masyarakat pengumpul dan peramu.

Dari peta jejaring sosial ini, peneliti juga melihat adanya kesamaan perilaku bekerja sama pada individu yang terhubung dalam dua derajat pertemanan. “Jika teman dari teman mereka senang bekerja sama, maka si individu juga cenderung suka bekerja sama,” ujar Heinrich.

source : tempointeraktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: