Wawancara

Artikel ini saya tujukan untuk anak – anak yang sefang mendapatkan tugas dari Sekolahnya. Berikut Infonya :

Dari Wikipedia.com :

Wawancara (bahasa Inggris: interview) merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara yang mewawancarai dan yang diwawancarai. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi dimana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.

Ankur Garg, seorang psikolog menyatakan bahwa wawancara bisa jadi alat bantu saat dilakukan oleh pihak yang mempekerjakan seorang calon/ kandidat untuk suatu posisi, jurnalis, atau orang biasa yang sedang mencari tau tentang kepribadian seseorang ataupun mencari informasi.

Jurnalistik

Dalam bidang jurnalistik wawancara menjadi salah satu cara mendapatkan informasi bahan berita. Wawancara biasanya dilakukan oleh satu atau dua orang wartawan dengan seseorang atau sekelompok orang yang menjadi sumber berita. Lazimnya dilakukan atas permintaan atau keinginan wartawan yang bersangkutan.asu

Sedangkan dalam jumpa pers atau konferensi pers, wawancara biasanya dilaksanakan atas kehendak sumber berita.

Bentuk Wawancara

  1. Wawancara berita dilakukan untuk mencari bahan berita.
  2. Wawancara dengan pertanyaan yang disiapkan terlebih dahulu.
  3. Wawancara telepon yaitu wawancara yang dilakukan lewat pesawat telepon.
  4. Wawancara pribadi.
  5. Wawancara dengan banyak orang.
  6. Wawancara dadakan / mendesak.
  7. Wawancara kelompok dimana serombongan wartawan mewawancarai seorang, pejabat, seniman, olahragawan dan sebagainya.

Sukses tidaknya wawancara selain ditentukan oleh sikap wartawan juga ditentukan oleh perilaku, penampilan, dan sikap wartawan. Sikap yang baik biasanya mengundang simpatik dan akan membuat suasana wawancara akan berlangsung akrab alias komunikatif. Wawancara yang komunikatif dan hidup ikut ditentukan oleh penguasaan permasalahan dan informasi seputar materi topik pembicaraan baik oleh nara sumber maupun wartawan.

Dari http://arfahhusaifah.com/2010/02/06/menulis-hasil-wawancara-2/ :

Menulis Hasil Wawancara

Sebenarnya nggak terlalu beda jauh, antara menulis berita, feature, dengan hasil wawancara. Cuma, kayaknya yang membuat beda itu adalah bagaimana merangkum semua hasil ‘obrolan’ kita dengan narasumber yang kita wawancarai. Untuk bisa menuliskan hasil wawancara dengan oke dan enak dibaca, ada beberapa tahapan yang kudu diperhatikan sebelum melakukan wawancara. Sebab, melakukan wawancara adalah satu bagian dalam proses penggalian bahan tulisan. Kita harus bisa mengeksplorasi seluruh kemampuan kita untuk menggali ide-ide yang tertanam dalam benak narasumber kita. Apalagi, jika narasumber yang kita wawancara termasuk tokoh penting dan udah ngetop di kalangan banyak orang.

Nah, ada beberapa persiapan awal sebelum wawancara yang bisa kamu lakukan. Pertama, menentukan topik. Jelas dong, jangan sampe kamu datang ke narasumber dengan ‘kepala kosong’. Ini bakalan menjadi blunder buat kamu yang nekat datang tanpa menentukan topik wawancara. Bukan hanya narasumber yang bakalan bingung, tapi kamu juga akhirya cuma bengong. Sama halnya dengan kalo kamu naik panggung untuk ngisi presentasi, tapi dengan ‘kepala kosong’. Hasilnya, mudah ditebak, kamu bingung! Tul nggak? Kata William Shakespeare, “Barangsiapa yang naik panggung tanpa persiapan, maka ia akan turun dengan kehinaan,” Walah?

Sobat muda muslim, langkah kedua dalam persiapan melakukan wawancara adalah menyiapkan ‘pertanyaan jitu’, ada sebagian wartawan menyebutnya ‘pertanyaan peluru’ (loaded question). Ini akan menentukan tingkat kemampuan si pewawancara. Bahkan sangat boleh jadi akan menghasilkan isi wawancara yang berbobot. Apalagi tokoh yang kita wawancarai memang terkenal dan berpengaruh. Tapi harap diingat dong, bahwa jangan sampe kita terpaku kepada rumusan pertanyaan yang udah kita buat. Itu bisa menjebak kita nantinya dalam kekakuan. Tapi, pastikan bahwa kamu dapat mengembangkan pertanyaan lain saat wawancara terjadi. Jadi bisa bersumber dari pertanyaan narasumber.

Nah, sekarang kita belajar menuliskan hasil wawancara. Untuk mendapatkan tulisan berupa wawancara yang baik, tentunya kita kudu mendapatkan sedetil-detilnya segala macam yang ‘melekat’ pada narasumber. Setelah melakukan wawancara, biasanya ada kesempatan untuk rileks. Nah, di situlah kamu bisa tanya ‘ini-itu’ dari narasumber; misalnya warna favoritnya, olahraga kesukaannya, makanan kesukaannya, tokoh idolanya, pendidikannya, keluarganya, aktivitasnya, pengalaman-pengalaman unik yang dialaminya, dsb. Dengan catatan, jika wawancara ini bersifat ‘eksklusif’, yakni cuma kamu, atau media tempat kamu kerja aja yang melakukan wawancara dengan narasumber tersebut. Kalo wawancara sambil lalu, maka untuk mendapatkan detil dari yang ‘melekat’ pada dirinya, kamu bisa baca via sumber lain yang menceritakan narasumber tersebut. Jadi tenang aja, apalagi jika media massa tempat kamu kerja punya dokumentasi lengkap, maka akan mudah untuk berkreasi dalam menulis hasil wawancaramu.

Sobat muda muslim, kita juga bisa ‘memodifikasi’ tulisan wawancara. Tujuannya supaya pembaca enak untuk menyimaknya. Misalnya begini. Dalam kenyataan saat wawancara, kita mengajukan pertanyaan yang adakalanya panjang banget kan? Biasanya itu dilakukan untuk memperjelas maksud. Nah, dalam tulisan hasil wawancara, tidak perlu ditulis semua pertanyaan kita sesuai rekaman di kaset. Kamu bisa memotongnya dengan tanpa mengurangi maksud dari pertanyaan. Contoh: “Bapak bisa jelaskan masalah yang menimpa anak muda sekarang, misalnya dalam masalah pergaulan?” Ini yang kita ucapkan kepada narasumber. Tapi, dalam tulisan hasil wawancara, kita persingkat saja jadi begini, “Bisa dijelaskan pergaulan remaja sekarang?” Lebih hemat kan?

Bisa juga ‘modifikasi’ itu kita lakukan dalam ‘membagi’ jawaban narasumber ke dalam beberapa bagian ‘pertanyaan buatan’ kita. Ini terjadi jika jawaban narasumber kelewat panjang. Nah, supaya pembaca nggak jenuh dengan panjangnya jawaban, maka kita buatkan ‘pertanyaan pembantu’ untuk membagi jawaban tersebut. Tentu dengan tidak menghilangkan maksud dari jawaban narasumber dong. Sekali lagi, ini sekadar mengatasi kejenuhan pembaca.

Terus, yang bisa kita lakukan dalam menulis hasil wawancara adalah mengkreasikan data-data. Supaya tambah ciamik, maka dalam tulisan itu, kita selipkan profil narasumber. Misalnya, “Bapak sembilan anak yang rajin membaca buku ini, terlihat masih segar di usia tuanya. Setiap hari, ia berkeliling komplek perumahan untuk sekadar berolaharga jalan kaki kesukaannya. Suami dari ….. (sebutkan nama istrinya) kelahiran Jakarta 50 tahun silam itu kini aktif sebagai pengurus Partai …. (sebutkan nama partai tempat ia bergabung dan jabatannya)”

Kamu bisa buat tulisan tambahan seperti itu sekitar 3 buah. Boleh juga dipadu dengan biodata singkatnya yang ditulis dalam sebuah kertas (minta saja bagian tataletak untuk men-scan kertas tersebut untuk diselipkan dalam lay-out rubrik wawancara tersebut). Pokoknya, buatlah semenarik mungkin hasil kreasimu. Tiap wartawan biasanya punya kreasi tersendiri. Selama itu memang menarik, kenapa tidak? Tul nggak?

Tulisan hasil wawancara akan lebih menarik jika kamu pandai mengolah kata, gabungkan dengan tip yang sudah saya sampaikan di awal; membuat judul, hemat kata, dan tentunya kaya dengan kosakata. Ditanggung antimanyun deh.

Oke, sekarang mulailah menyiapkan segalanya untuk wawancara. Sudah siap? Yup, sebelum lupa, yang penting lagi sebelum melakukan wawancara adalah mental. Selain kudu percaya diri, kamu juga ‘wajib’ punya mental juara. Sebab, adakalanya narasumber itu ‘ngerjain’ kita. Saya dan seorang teman pernah melakukan wawancara dengan Pak Amien Rais (waktu itu masih Ketua PP Muhammadiyah). Wuih, sampe empat kali bolak-balik Bogor-Jakarta. Jadi, nggak mesti sekali jadi. Maklumlah tokoh penting. Akhirnya dapet juga, meski dengan susah payah. Kejar terus sampe dapet! Ayo…kamu pasti bisa![Sumber: Buku “Menjadi Penulis Hebat”]
Dari http://deathwar.wordpress.com/2010/02/03/tips-menghadapi-wawancara-2/ :

Saran-Saran Menghadapi Wawancara

Bagi anda yang dipanggil untuk menjalani wawancara kerja, sebaiknya anda memperhatikan beberapa saran di bawah ini.

  • Pastikan anda sudah tahu tempat wawancara. Disarankan beberapa hari sebelum wawancara, anda sudah mengetahui tempatnya, bahkan sudah melihat tempatnya.
  • Jika tidak diberitahu terlebih dulu jenis pakaian apa yang harus dipakai, maka gunakan pakaian yang bersifat formal, bersih dan rapi.
  • Baca kembali surat lamaran, CV anda, dan surat panggilan wawancara tersebut. Jangan lupa untuk membawa surat-surat atau dokumen-dokumen tersebut serta peralatan tulis saat wawancara.
  • Mempersiapkan diri menjawab berbagai pertanyaan yang mungkin diajukan pewawancara.Sebaiknya anda berlatih bersama rekan untuk mengantisipasi semua kemungkinan pertanyaan yang akan dilontarkan pewawancara, sehingga pertanyaan apa pun yang diajukan dapat dijawab dengan memuaskan.
    Anda dapat menggunakan “daftar/contoh pertanyaan umum” (silakan klik) pada situs ini untuk berlatih menjawabnya bersama rekan anda.
  • Sebelum berangkat ke tempat wawancara, berdoalah terlebih dulu sesuai keyakinan anda.
  • Usahakan untuk tiba sepuluh menit lebih awal, jika terpaksa terlambat karena ada gangguan di perjalanan segera beritahu perusahaan (pewawancara). Namun usahakan jangan terlambat, karena banyak perusahaan yang langsung menganggap anda gagal bila terlambat.
  • Sapa satpam atau resepsionis yang anda temui dengan ramah.
  • Jika harus mengisi formulir, isilah dengan lengkap dan rapi.
  • Ucapkan salam (selamat pagi/siang/sore) kepada para pewawancara dan jika harus berjabat-tangan, jabatlah dengan erat (tidak terlalu keras namun tidak lemas).
  • Tetaplah berdiri sampai anda dipersilakan untuk duduk. Duduk dengan posisi yang tegak dan seimbang.
  • Persiapkan surat lamaran, CV anda, dan surat panggilan wawancara.
  • Ingat dengan baik nama pewawancara.
  • Lakukan kontak mata dengan pewawancara.
  • Tetap fokus pada pertanyaan yang diajukan pewawancara.
  • Tunjukkan antusiasme dan ketertarikan anda pada jabatan yang dilamar dan pada perusahaan.
  • Gunakan bahasa formal, bukan prokem atau bahasa gaul; kecuali anda diwawancarai untuk mampu menggunakan bahasa tersebut.
  • Tampilkan hal-hal positif yang pernah anda raih.
  • Tunjukkan energi dan rasa percaya diri yang tinggi, namun jangan berkesan sombong atau takabur. Banyak yang gagal hanya lantaran berkesan sombong, takabur, atau sok tahu.
  • Tunjukkan apa yang bisa anda perbuat untuk perusahaan bukan apa yang bisa diberikan oleh perusahaan kepada anda.
  • Jelaskan serinci mungkin hal-hal yang ditanyakan oleh pewawancara.
  • Ajukan beberapa pertanyaan bermutu di seputar pekerjaan anda dan bisnis perusahaan secara umum.
  • Berbicara dengan cukup keras sehingga suara jelas terdengar oleh pewawancara.
  • Akhiri wawancara dengan menanyakan apa yang harus anda lakukan selanjutnya.
  • Ucapkan banyak terima kasih kepada pewawancara atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada anda.

Sumber : gilland-ganesha.com, hanyawanita.com

Persiapan Menghadapi Wawancara
Wawancara adalah bagian dari proses penerimaan karyawan mempunyai berbagai tujuan. Ada yang dimaksudkan untuk lebih mengetahui keterampilan teknis yang dimiliki pelamar, mengetahui kepribadian pelamar, atau mengetahui kemampuan pelamar menangani berbagai hal.

Wawancara biasanya dilakukan untuk melengkapi hasil tes tertulis. Hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari tes tertulis akan digali melalui proses wawancara. Dalam hal ini, anda dituntut untuk berusaha menguasai diri anda sendiri (khususnya kelebihan dan kelemahan anda). Juga berusaha menguasai bidang pekerjaan yang anda lamar.

Cari Informasi Sebanyak Mungkin dan Berlatihlah

Jika anda telah sampai pada tahap wawancara, sebenarnya secara kualitas, anda telah memenuhi persyaratan untuk diterima di perusahaan tersebut. Namun anda dapat gagal hanya karena kurang mengetahui tentang perusahaan tempat anda melamar. Untuk itu, sebaiknya anda juga berusaha mengetahuinya, dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai kebiasaan di perusahaan tersebut. Tidak ada salahnya anda bertanya kepada resepsionis, satpam, atau tukang parkir sekalipun untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan di tempat tersebut.

Pewawancara mana pun kurang menyukai orang yang terlalu tertutup. Usahakan memberikan informasi sejelas-jelasnya mengenai apa yang ditanyakan oleh pewawancara. Jangan pasif, sebaiknya usahakan aktif memberi informasi. Jangan mengesankan anda menyembunyikan sesuatu, namun anda juga jangan terlalu berlebihan dan menyampaikan hal-hal yang tidak relevan. Tetaplah tenang dan mengatakan yang sebenarnya.

Uahakan jawaban anda selalu mengindikasikan karakter yang kuat, ulet, dan bersemangat, karena perusahaan mana pun selalu menyukai orang demikian.

Sebaiknya anda berlatih bersama rekan untuk mengantisipasi semua kemungkinan pertanyaan yang akan dilontarkan pewawancara, sehingga pertanyaan apa pun yang diajukan dapat dijawab dengan memuaskan. Anda dapat menggunakan “daftar/contoh pertanyaan umum” (silakan klik) pada situs ini untuk berlatih menjawabnya bersama rekan anda.

Berbagai Kondisi

Ada kalanya wawancara juga dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan anda menghadapi dan menangani berbagai situasi. Untuk yang jenis ini, anda mungkin menghadapi pewawancara yang akan mendiamkan anda begitu saja selama 5-10 menit sebelum memulai percakapan. Mungkin juga ia akan berpura-pura tidak peduli dan membaca koran ketika anda masuk, atau ia akan mengajukan bantahan-bantahan yang tidak masuk akal terhadap setiap jawaban anda, atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol tentang keluarga anda, dan banyak trik lain.

Menghadapi kondisi begini, prinsip utama yang harus anda pegang adalah anda benar-benar menginginkan pekerjaan tersebut, sehingga apa pun yang terjadi anda akan menghadapinya dengan baik. Jika anda dicuekin, tetaplah bersikap sopan. Katakan “Saya tertarik dengan pekerjaan ini dan bermaksud menjelaskan kepada Bapak/Ibu mengapa anda harus mempertimbangkan saya untuk posisi ini.”

Jangan sampai terpengaruh dengan sikap pewawancara yang mungkin tampak aneh. Usahakan tetap tenang dan berpikir positif. Tanamkan dalam benak anda bahwa hal ini hanyalah bagian dari proses yang wajar sehingga anda tidak perlu merasa sakit hati atau kecewa.

Sumber : gilland-ganesha.com, GloriaNet

Cara Berpakaian Yang Baik Dalam Wawancara
Berpakaian yang “baik” dalam wawancara memang tidak dapat digeneralisasikan karena setiap perusahaan memiliki kebiasaan-kebiasaan/budaya perusahaan yang berbeda. Namun, ada beberapa tips yang dapat diingat, antara lain:

Cari informasi terlebih dahulu tentang perusahaan dan Bapak/Ibu yang akan mewawancarai anda. Beberapa perusahaan memiliki peraturan atau “kebiasaan” berpakaian secara formal, tetapi ada juga yang semi formal, atau bahkan ada yang bebas. Hal ini penting, agar anda tidak dilihat sebagai “orang aneh’, disesuaikan dengan posisi yang akan dilamar. Bagi pelamar pria disarankan menggunakan kemeja lengan panjang dan berdasi, tidak perlu menggunakan jas. Berpakaian rapi dan bersih, tidak kusut. Hal ini memberi kesan bahwa anda menghargai wawancara ini.

Berpakaian dengan warna yang tidak terlalu menyolok (misalkan mengkilap, ngejreng).
Bagi pelamar wanita berpakaian yang tidak terlalu ketat (rok bawah, kancing baju atasan).
Berpakaian dengan desain yang simpel (tidak telalu banyak pernik-pernik, toh ini bukan acara pesta).
Tidak berlebihan dalam menggunakan wewangian dan perhiasan.

Sumber : Kompas Cyber Media

Pengaruh Kontak Mata dan Suara dalam Wawancara
Dalam wawancara, faktor diluar “isi” seringkali dapat mempengaruhi keberhasilan suatu wawancara. Mulai dari penampilan, sampai cara berbicara.

Seorang pewawancara yang berpengalaman akan merasakan sebagian karakter yang diwawancara dari sinar matanya. Tidak perlu dengan memelototi, atau dengan sinar mata syahdu, melainkan tataplah secara wajar kepada pewawancara.

Intinya, bahwa melalui tatapan anda selama wawancara haruslah menandakan :
1. Apakah anda cukup percaya diri;
2. Apakah anda berpikir positif terhadap proses komunikasi dalam wawancara tersebut;
3. Apakah anda jujur dengan isi komunikasi anda;
4. Apakah anda tampil “jujur” sesuai dengan kepribadian anda yang sebenarnya, tidak dibuat-buat.

Intonasi akan memperlihatkan apakah anda seorang yang percaya diri atau tidak. Tidak perlu dengan cara mengatur suara seperti seorang pemain sinetron, tetapi cukuplah bahwa anda dapat menggunakan intonasi yang menarik minat lawan bicara untuk terus berkomunikasi.

Usahakan tidak memberi nada agresif, atau nada “menutup” diri. Gunakanlah intonasi yang mewakili dengan isi pesan anda. Volume, warna, dan irama memang harus diatur dengan baik, tetapi bukan harus menjadi orang yang tampil bukan sebagai dirinya sendiri.

Sumber : gilland-ganesha.com, Kompas Cyber Media

Sopankah Menanyakan Hasil Wawancara ?
Panggilan wawancara kerja merupakan saat yang paling menyenangkan bagi pencari kerja. Karena panggilan tersebut merupakan langkah awal untuk meniti pekerjaan yang diidamkan. Tak heran jika test wawancara atau test interview menimbulkan banyak harapan di dalam diri pencari kerja. Bayangan mendapatkan pekerjaan yang bagus, gaji yang cukup dan teman-teman kerja yang menyenangkan seakan sudah di pelupuk mata.

Tetapi seringkali terjadi harapan tinggallah harapan, panggilan selanjutnya ternyata hanya tinggal penantian dan impian. Dering telepon atau surat panggilan selanjutnya, tak kunjung tiba. Anda pun jadi penasaran dan diliputi berbagai pertanyaan, apakah akan ada panggilan lagi atau memang hasil wawancara Anda tidak diproses. Tak jarang harapan yang tadinya berkobar mendadak padam.

Memang, pada beberapa perusahaan memerlukan waktu yang agak lama bahkan ada yang membutuhkan waktu sampai satu bulan untuk memproses kelanjutan test wawancara. Nah, kalau Anda menghadapi situasi demikian, agar tidak penasaran, Anda dapat menanyakan kepastian kepada perusahaan tersebut melalui telepon. Anda dapat bertanya setelah melewati waktu dua minggu dari waktu wawancara. Tanyakan langsung pada divisi HRD atau orang yang mewawancarai Anda.

Jangan merasa ragu dan takut untuk menanyakan hal ini, karena bertanya merupakan hak Anda. Lagi pula, menanyakan kepastian kabar dan kelanjutan proses lamaran Anda dalam waktu dua minggu atau lebih setelah wawancara adalah hal yang etis dan cukup sopan. Perusahaan pun pasti maklum atas pertanyaan Anda. Untuk itu usai wawancara, ada baiknya Anda menanyakan siapa dan nomor telepon yang dapat dihubungi untuk menanyakan hasil wawancara Anda.

Jika pihak perusahaan menjawab bahwa hasil test Anda tersimpan dalam database dan sewaktu-waktu diperlukan Anda akan dipanggil lagi, berarti jawaban sesungguhnya lamaran Anda tidak diproses lebih lanjut. Jawaban seperti itu biasanya merupakan penolakan secara halus setidaknya untuk saat itu. Bisa jadi, suatu saat jika ada kualifikasi yang cocok, Anda akan dipanggil lagi. Namun dengan jawaban seperti itu Anda jangan lantas terus menanti tanpa berusaha lagi. Buatlah lamaran lain sebanyak-banyaknya.

Sebaliknya kalau jawaban perusahaan memberi kepastian, misalnya,”Anda memang memenuhi kualifikasi kami dan dengan pertanyaan Anda, kami sekaligus memanggil Anda pada tanggal…”, berarti kemungkinan besar Anda akan diterima. Mungkin saat itu pihak perusahaan belum sempat menghubungi Anda lebih lanjut dikarenakan adanya kepentingan lain.

Hidup ini memang penuh dengan kemungkinan. Untuk itu Anda jangan berhenti berusaha untuk mendapatkan kemungkinan yang terbaik. Sehingga kemungkinan itu akan menjelma menjadi suatu ‘kepastian’ yang menggembirakan.

Dari http://indahcwitte90.blogspot.com/2009/11/teknik-teknik-wawancara.html :

TEKNIK-TEKNIK WAWANCARA

Teknik Wawancara

Agustus 12, 2008
Sebelum penulis menguraikan tentang teknik wawancara referensi dan negosiasi, ada baiknya kita menelaah kembali pengertian, tujuan dan fungsi layanan referensi, sebab ini penting sebagai latar belakang kita dalam memahami lebih jauh mengenai layanan referensi. Dalam aktifitasnya yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi para penggunanya, perpustakaan mengupayakan pemberian layanan prima pada masyarakat, diantaranya dengan memberikan layanan referensi. Batasan referensi yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) berarti sumber acuan, rujukan atau petunjuk. Secara lebih luas lagi referensi berarti buku-buku yang dianjurkan untuk dibaca, seperti yang tertulis di akhir suatu karangan atau tulisan.
Ada beberapa definisi yang dikemukaan oleh para ahli tentang layanan referensi ini diantaranya:
Donald Davinson, dalam bukunya: Reference Service (1980:11). Layanan Referensi dan informasi adalah aktifitas yang dilakukan oleh para pustakawan dan staf dari perpustakaan-perpustakaan referensi, dengan menggunakan buku-buku dan bahan-bahan pustaka lainnya yang mereka miliki untuk tujuan berbeda dari bahan-bahan yang disediakan untuk bacaan di rumah atau pemakaian di luar perpustakaan.
William A. Katz dalam bukunya Introduction to Reference Work, Vol.II (1997:4). William membedakan antara reference work dengan reference service. Reference Work berarti kegiatan menjawab pertanyaan-pertanyaan referensi dari pengguna secara efisien dan cepat, sedangkan reference service juga mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan di belakang layar seperti akuisisi, supervisi dan administrasi, penyusunan sarana bibliografi/indeks, serta mengajarkan bagaimana menggunakan perpustakaan secara baik dan benar.
Lebih jelasnya, Soejono Trimo memberikan definisi tentang layanan referensi yaitu pemberian bantuan secara langsung dan bersifat personal oleh perpustakaan kepada masyarakat yang dilayaninya yang sedang mencari atau membutuhkan keterangan-keterangan tertentu. (Trimo, 1990: 74)
Ada dua pengertian yang dijelaskan dari definisi yang diberikan Soedjono Trimo, tadi yaitu:
a. Pemberian bantuan langsung. Pustakawan referensi membantu pencari informasi dengan jalan menunjukkan dan menerangkan tentang buku-buku sumber informasi yang diperlukan, mengajarkan how to use the library effectively kepada masyarakat pemakai jasa layanan perpustakaan, membimbing minat masyarakat
untuk tujuan-tujuan tertentu, memberikan petunjuk cara-cara melakukan penelusuran informasi serta menerangkan tentang karakteristik-karakteristik setiap jenis buku sumber dalam koleksi buku-buku referensi.
a. Berifat lebih personal. Dapat diartikan bahwa layanan referensi sebagaian besar dilakukan secara tatap muka dengan pencari informasi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa titik tolak dari suatu pelayanan
referensi adalah menjawab permintaan-permintaan informasi serta memberikan bimbingan pembaca dalam memilih serta menelusuri informasi, melalui penggunaan koleksi referensi dan sebagainya, sehingga informasi yang dibutuhkan pengguna dapat terpenuhi.
Tujuan dan Fungsi/Tugas Layanan Referensi
Sebagai suatu kegiatan yang diselenggarakan perpustakaan untuk membantu pengguna menemukan informasi serta memanfaatkan koleksi perpustakaan semaksimal mungkin, layanan referensi memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Memungkinkan pengguna perpustakaan menemukan informasi dengan cepat dan tepat.
b. Memungkinkan pengguna perpustakaan menemukan informasi dengan pilihan yang lebih luas.
c. Memungkinkan pengguna perpustakaan menggunakan koleksi referensi dengan lebih tepat guna (Sri Hartinah, 2002: 5)
Tujuan tersebut hanya akan dapat berjalan dengan baik manakala kita memahami fungsi-fungsi layanan referensi. Ada beberapa fungsi layanan referensi yaitu:
a. Supervisi, yaitu menciptakan tata kerja layanan yang rapi dan memudahkan bagi pengguna, termasuk pengaturan staf, koleksi, tata letak, peralatan serta jenis layanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
b. Informasi, yaitu memberikan informasi yang sesuai dengan permintaan pengguna, dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan pengguna.
c. Bimbingan, yaitu memberikan bimbingan dalam menemukan bahan pustaka yang tepat sesuai keinginan pengguna, misalnya memberikan bimbingan dalam penggunaan katalog atau OPAC, pemakaian buku-buku referensi dan sebagainya.
d. Pengarahan atau instruksi, yaitu memberikan pengarahan dan bantuan pada pengguna mengenai cara menggunakan perpustakaan maupun koleksi referensi.
e. Bibliografi, yaitu menyusun bibliografi atau daftar publikasi untuk keperluan pengguna maupun untuk keperluan perpustakaan sendiri, atas permintaan maupun inisiatif perpustakaan.
f. Penilaian atau evaluasi, yaitu menilai koleksi dan layanan referensi agar dapat memberikan layanan yang maksimal kepada pengguna perpustakaan.
Kalau kita perhatikan dengan seksama pengertian, tujuan dan fungsi layanan
referensi di atas maka, dapat kita simpulkan bahwa tugas layanan referensi pada dasarnya adalah memberikan bantuan untuk mencari dan menemukan informasi kepada pengguna perpustakaan dengan baik dan efisien. Layanan bisa bersifat langsung, misalnya menjawab pertanyaan para pengguna, dan dapat pula bersifat tidak langsung seperti, membina dan mengembangkan koleksi referensi.. Layanan langsung artinya dalam memberikan layanan itu betul-betul berhubungan secara langsung dengan para pembaca terutama sekali dalam memberikan informasi, baik informasi yang bersifat ilmiah untuk kepentingan studi dan riset maupun informasi-informasi lain yang sifatnya nom ilmiah. Dalam memberikan informasi tadi, layanan ini dapat dengan leluasa menggunakan sumber-sumber baik yang terdapat di dalam perpustakaan sendiri maupun yang ada di luar perpustakaan. Jadi layanan referensi benar-benar membantu para pembaca dalam menggunakan atau memanfaatkan sumber-sumber informasi yang ada dengan sebaik-baiknya.
Kualifikasi Petugas Dalam Layanan Referensi
Melihat luasnya cakupan tugas layanan referensi seperti tersebut di atas, jelas bahwa sudah sewajarnya untuk dapat menjalankan tugas-tugas tersebut pustakawan referensi harus benar-benar mengetahui dan mendalami sumber-sumber koleksi referensi. Oleh karena itu dalam menjalankan tugas sehari-hari diperlukan petugas yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Petugas di sini berperan sebagai penghubung antara pembaca dengan buku atau sumber informasi lainnya. Syarat-syarat tersebut di antaranya adalah:
a. Sebaiknya seorang yang pandai bergaul, komunikatif, dan memiliki perhatian
b. Siap melayani dan menolong
c. Memiliki daya imajinasi yang luas
d. Cepat tanggap terutama dalam mengantisipasi pertanyaan
e. Mengenal dengan baik siapa yang akan dilayani
f. Dapat mengoperasikan semua fasilitas yang ada di perpustakaan seperti katalog manual, katalog terpasang (OPAC), serta alat-alat penelusuran lain.
g. Mempunyai pengetahuan yang luas tenang jenis koleksi.
h. Menghindari jawaban “tidak tahu”. Karena petugas harus bisa menunjukkan alternatif sumber informasi lain yang bisa memenuhi kebutuhan informasi penggunanya.
Dari uraian di atas secara faktual dapat ditegaskan bahwa, sesungguhnya layanan
referensi sebagaian besar dilakukan secara tatap muka dengan pencari informasi. Oleh karena itu dalam menjalankan tugas-tugasnya diperlukan teknik-teknik wawancara referensi yang komunikatif, efisien dan tepat.
Teknik Wawancara Referensi
Dalam pengertian jurnalistik, wawancara adalah suatu percakapan terpimpin dan tercatat atau suatu percakapan secara tatap mula dimana seseorang mendapat informasi dari orang lain (Denzig). Pengertian lain wawancara adalah merupakan suatu hubungan antar manusia dimana kedua pihak bersikap sama derajat selama pertemuan-pertemuan berlangsung. (Benny dan Hughes). Apabila dihubungkan dengan referensi maka menurut Broadly, wawancara referensi atau a reference interview adalah percakapan antara petugas perpustakaan/pustakawan referensi dan pengguna perpustakaan dengan tujuan menjelaskan dan membantu kebutuhan pengguna dalam menemukan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Jadi pada prinsipnya layanan referensi sebisa mungkin dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pengguna perpustakaan. Dalam hal ini menjawab dengan cepat dan tepat sehingga penanya menjadi puas, setelah berusaha mencari dan menemukan sumber informasi yang tersedia.
Dalam proses tersebut interaksi yang akrab, terpadu, dan saling mendukung mutlak dibutuhkan agar tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana. Oleh karena itu sebagai pustakawan referensi harus bisa menangkap setiap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pengguna perpustakaan. Kemampuan pewawancara dalam komunikasi sangat membatu dalam tugas ini. Karena di sana terdapat teknik-teknik khusus yang bisa memberi kontribusi sehingga memungkinkan suksesnya wawancara referensi.
Pertanyaan Referensi
Pertanyaan referensi adalah suatu pertanyaan yang dapat dijawab dengan buku-buku referensi yang tersedia. Batasan tersebut dapat diuraiakan sebagai berikut:
a.
1. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat digolongkan sebagai pertanyaan referensi adalah semua pertanyaan yang dapat dijawab dengan atau melalui sumber-sumber referensi yang ada atau bahan-bahan tercetak lainnya, sehingga tidak cukup bila pertanyaan tersebut dijawab dengan secara konprehensip saja.
2. Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, petugas referensi dianjurkan untuk bisa mencari jawabannya dimana saja jawaban itu dapat ditemukan, tidak hanya dengan sumber-sumber yang ada di perpustakaan sendiri tetapi kalau perlu dapat pula dengan menggunakan sumber-sumber lain yang ada di luar perpustakaan kita.
Dari uraian tersebut dapat dibedakan mana pertanyaan referensi dan mana yang merupakan pertanyaan umum yang dapat dijawab dengan seketika. Kecuali pertanyaan referensi yang sifatnya merupakan pertanyaan referensi biasa artinya pertanyaan yang dapat dijawab cukup dengan menggunakan sumber-sumber referensi yang ada, ada pula pertanyaan referensi yang bersifat penelitian.
Ciri khas dari pertanyaan yang sifatnya penelitian adalah bahwa biasanya pertanyaan yang bersifat suatu penelitian ini memerlukan waktu yang cukup lama mencari jawabannya. Kecuali itu, dengan adanya pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali melibatkan pustakawan referensi dalam pekerjaan penelusuran literatur dan usaha pencarian informasi lainnya guna membantu penelitian tersebut.
Untuk bisa menjawab pertanyaan semacam itu, langkah pertama yang harus dilakukan petugas referensi adalah:
1. Mencari hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para peneliti lain sebelumnya, tentang persoalan serupa itu.
2. Mencari laporan-laporan dari tangan pertama baik yang terdapat di dalam naskah, jurnal, ringkasan, atau sari karangan, ataupun majalah-majalah.
Selain itu ada pula jenis pertanyaan referensi lain yang hampir sama dengan
pertanyaan penelitian, tetapi tidak begitu melibatkan petugas referensi secara langsung dalam penelitian. Jenis pertanyaan referensi ini adalah pertanyaan yang bersifat suatu pemilihan buku, misalnya ada seorang pengunjung ingin mendapatkan buku-buku mengenai soal pemerintahan demokrasi.
Untuk dapat menjawab pertanyaan seperti itu, selain memerlukan waktu perlu pula melakukan sekedar peneletian meskipun tidak sejauh dan sedalam disbanding dengan menjawab pertanyaan yang bersifat penelitian.
Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu, terutama adalah:
1. Kita perlu memiliki daftar buku yang lengkap
2. Untuk dapat sampai kepada buku-buku yang membahas tentang masalah yang dicari tadi, kita harus melakukan seleksi atau pemilihan bahan-bahan pustaka yang sekitanya sesuai dengan permasalahannya tadi.
3. Atau dapat pula kita memberikan saran kepada pembaca tentang buku-buku apa saja yang dapat mereka baca.
Jadi dari uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa sebetulnya
pertanyaan-pertanyaan referensi itu dapat kita golongkan menjadi tiga macam:
1. Pertanyaan referensi biasa
2. Pertanyaan referensi yang bersifat penelitian
3. Pertanyaan referensi yang sifatnya merupakan bimbingan kepada pembaca atau pemilihan buku.
Dalam prakteknya nanti akan dapat kita lihat bahwa perbedaan pokok dari ketiga
jenis pertanyaan referensi tersebut sebenarnya lebih banyak terletak pada soal waktu yang dibutuhkan guna mencari jawabannya.
Teknik Menjawab Pertanyaan Referensi
Menurut Margaret Hutchins, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan referensi dapat ditempuh melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Menggolong-golongkan pertanyaan
a. Menggolong-golongkan pertanyaan yang masuk ke dalam subyek-subyek yang cukup luas cakupannya. Misalnya: sastra, kimia, elektro, biologi, dan sebagainya.
b. Menilai pertanyaan tersebut, misalnya informasi macam apa yang diperlukan oleh penanya.
c. Menghubungkan jenis informasi yang dipertanyakan itu dengan sumber-sumber referensi yang ada.
d. Untuk keperluan kita sendiri sebagai petugas referensi, sangat dianjurkan untuk menyusun suatu daftar pertanyaan, yang digolong-golongkan menurut subyeknya.
Catatan:
Sebelum kita sampai pada tahap proses menjawab pertanyaan, maka untuk semua pertanyaan yang masuk kita perlu mencatat terlebih dahulu tentang identitas penanya misalnya nama, alamat, nomor telepon, faksimil, atau emailnya pada lembar/formulir pertanyaan yang tersedia di perpustakaan. Atau bisa juga penanya diminta untuk mengisi formulir yang tersedia. Hal ini dimaksud untuk menindaklanjuti pertanyaan yang akan kita dijawab, baik jawaban yang memerlukan waktu yang lama maupun jawaban singkat. Bila jawabannya membutuhkan waktu yang lama maka, pada kesempatan lain bisa kita menghubungi mereka. Pemberian layanan demikian inilah biasanya memberikan ciri khas pada setiap layanan referensi.
1. Proses Menjawab Pertanyaan Referensi
a. Seteleh kita mengetahui persoalannya dan tahu apa yang harus kita cari, kemudian kita perlu mempertimbangkan aspek-aspek dari pertanyaan tersebut.
b. Selanjutnya kita membuat hipotesa mengenai bahan-bahan referensi mana yang mungkin dapat kita pergunakan untuk menjawab pertanyaan itu.
c. Untuk pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit dicari jawabannya dengan sumber-sumber yang ada, janganlah kita putus asa, kita bisa mencari sumber lain. Kita dapat menghubungi dan memanfaatkan sumber-sumber lain dai luar perpustakaan kita. Atau kita bisa menelusuri lewat CD ROM, dan internet.
Tipe-tipe Wawancara Referensi
Keberhasilan suatu layanan referensi yang dilakukan melalui wawancara referensi tergantung pada jenis atau tipe-tipe sebagai berikut:
1. Ketersedian bahan-bahan referensi (Ready-Reference)
Wawancara akan cepat tertangani dengan baik manakala petugas mengetahui atau hafal dengan koleksi inti referensi seperti direktori, almanak, ensiklopedia, kamus atau handbook. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan biasanya sangat sederhana. Misalnya dimana alamat kantor Departemen Tenaga Kerja, berapa jumlah penduduk suatu daerah pada tahun tertentu. Bila ketersediaan bahan-bahan tersebut, tentu dengan mudah kita bisa menjawab.
1. Proyek-proyek Penelitian (Research Projects)
Untuk melakukan wawancara dengan para peneliti yang sedang melakukan riset dengan topik tertentu, biasanya banyak pertanyaan yang diajukan. Hal ini karena peneliti membutuhkan banyak sumber informasi yang relevan. Oleh karena itu membutuhkan waktu yang cukup untuk konsultasi topik penelitian yang akan dilakukan. Kemungkinan frekuensi kunjungan ke layanan referensi tidak cukup sekali atau dua kali. Dalam beberapa kasus pustakawan bisa saja memberi saran atau prosedur penelitian yang pernah dilakukan.
1. Penyebaran Informasi Selektif (selective dissemination of information)
Yaitu layanan referensi yang memberitahukan kepada pengguna secara terus-menerus, sehingga terjalin komunikasi/wawancara mengenai berbagai hal tentang ketersedian koleksi perpustakaan, biasanya dalam bentuk daftar jurnal mutahir lengkap dengan judul dan pengarangnya. Penyebaran informasi ini tentunya diberikan kepada pihak-pihak yang memungkinkan dapat memanfaatkan koleksi perpustakaan kita. Bentuk layanan ini sangat bermanfaat khususnya bagi yang menghendaki informasi terbaru tentang topik tertentu.
1. Laporan Pembaca (reader’s advisory)
Setelah melalui pembicaraan pustakawan di sini diminta oleh pembaca untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi judul-judul baru dari subyek tertentu yang menarik dibaca bagi pengguna. Aktifitas ini bisa juga dikenal dengan layanan penelusuran literatur.
1. Information and referral/community information service
Komunikasi dengan cara menyebarkan informasi dalam bentuk buku indeks, sari karangan, buku abstrak dan lain-lain kepada komunitas tertentu. Biasanya diberikan kepada lembaga-lembaga atau pusat-pusat informasi.
1. Individual instruction
Sebagai pustakawan referensi harus bisa menangkap setiap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pengguna perpustakaan. Oleh sebab itu dalam proses wawancara seringkali petugas dengan skill yang dimiliki bisa memberikan instruksi atau arahan kepada pengguna, sumber informasi/bacaan apa saja yang dibutuhkan.
1. Database search interview
Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, menyebabkan petugas referensi harus jeli dalam mencari sumber informasi melalui database yang tersedia. Dalam hal ini pengguna bisa diarahkan atau dibimbing dapat menggunakan perangkat komputer yang di dalamnya terdapat berbagai database.
1. Telephone interview
Perlu diketahui bahwa layanan referensi di samping memberi bantuan melalui tatap muka juga melakukan bantuan langsung melalui telepon. Petugas menanyakan dan mencatat terlebih dahulu tentang identitas penanya misalnya nama, alamat, nomor telepon, faksimil, atau emailnya pada lembar/formulir pertanyaan yang tersedia di perpustakaan. Bila jawabannya membutuhkan waktu yang lama maka, pada kesempatan lain bisa kita menghubungi mereka.
9. Electronic mail interview
Salah satu fasilitas internet adalah kita bisa menggunakan e-mail. Di sini siapa saja bisa berkomunikasi lewat internet. Apalagi bagi pencari informasi, internet ini sangat dibutuhkan. Sebagai petugas referensi juga harus bisa menggunakan fasilitas e-mail. Bila ada pertanyaan-pertanyaan menyangkut layanan referensi, tentu saja dengan mudah dapat dijawab dan dikomunikasikan lewat internet. Cara untuk mengecek pertanyaan yang datang dari pengguna, bisa dilakukan setiap hari terutama waktu pagi hari. Cara menjawabnya pun tergantung permintaan dan jenis pertanyaan. Transfer data dan akses-akses dokumen lain mutlak diperlukan ketika menjawab lewat internet/e-mail
Kesimpulan
Pada dasarnya berhasil tidaknya tugas-tugas layanan referensi sebenarnya sangat tergantung kepada kemampuan berfikir, berkomunikasi dan piawai dalam berkomunikasi melalui wawancara referensi serta bisa mencarikan informasi yang sesuai dengan pengguna secara efisien. Berikut kiat wawancara referensi yang efektif bagi pustakawan referensi dalam melaksanakan tugas adalah sebagai berikut:
1. Menguasai bidang ilmu yang digelutinya sehingga kepercayaan diri dan mempunyai kemampuan secara professional
2. Mempelajari perilaku pengguna sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan memuaskan mereka
3. Menguasai ilmu dan keterampilan berkomunikasi
4. Menyenangi dan menghayati pekerjaannya yang tercermin di dalam kepribadian, sikap, penampilan, dan kinerjanya
5. Menjalin kerjasama yang harmonis dengan pengguna.
Semoga bermanfaat.
Daftar Pustaka
1. Tim Penyusun Kamus Pusat. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-3 ct. 1, Balai Pustaka, 2001.
2. Kartz, William A. Introduction to reference work. Vol. I, McGraw Hill, New York, 1997.
3. Bopp, Richard E. nd Linda C. Smith. Reference and information service: an Introduction, thirh ed. Libraries Unlimited, Inc, Englewood: 1995.
4. Sri Marnodi. Referensi suatu pengantar, Pusdiklat Perpustakaan IKIP Yogyakarta, Yogyakart, 1980.
5. Sri Hartinah. Layanan referensi. Makalah, PDII-LIPI, Jakarta, 2002.
6. Yusup, Pawit M. Pedoman praktis mencari informasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1995.
7. Trimo, Soedjono. Pedoman pelaksanaan perpustakaan, Remadja Karya Cv., Bandung, 1990.
8. Soepomo, Six. Layanan referensi. Jurnal BACA. Vol. XIX. No.1-2, PDII-LIPI, Jakarta, 1994.

4 Tanggapan

  1. Amazing, I found your site on Bing looking around for something completely unrelated and I really enjoyed your site. I will stop by again to read some more posts. Thanks!

  2. Ha, I think I know what you’re getting at. Nice laylout on your blog by the way. Very cool.

  3. That is nice to definitely find a site where the blogger knows what they are talking about.

  4. Great post mate.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: